Igya ser hanjop merupakan jurnal yang menyediakan sumber informasi ilmiah yang ditujukan untuk peneliti, lembaga penelitian, instansi pemerintah, dan pemangku kepentingan. Jurnal ini menerbitkan manuskrip penelitian asli yang berfokus pada hasil penelitian tentang semua aspek pembangunan berkelanjutan.
Pada awal penerbitan kali ini Igya ser hanjop menghadirkan enam artikel terbaik yang mengulas tentang pelbagai hal. Pertama, artikel yang ditulis Antoni Ungirwalu dkk yang ingin menunjukkan bahwa adaptasi kreasi sosial masyarakat Suku Arfak terhadap lingkungan menghasilkan berbagai bentuk interaksi bagi pemenuhan subsisten dan menjadi menjadi konsep pelestarian lokal dalam wujud simbol larangan terhadap pelestarian burung pintar. Kedua, artikel Julius Dwi Nugroho dkk yang bicara tentang produksi kulit kayu Masohi yang menurun secara dramatis sebanyak 68% dalam periode 2012 -2015. Ketiga, artikel George Mentansan dkk yang menjelaskan perlunya membangkitkan tradisi Sasi dalam mendukung upaya konservasi zonasi perairan yang berbasis kepada masyarakat adat di Raja Ampat. Keempat, artikel yang ditulis Keliopas Krey dkk yang mendedahkan iklim mikro (seperti hujan, suhu dan kelembaban udara) dan kebiasaan hidup setiap jenis ternyata sangat memengaruhi hasil temuan fauna katak dan reptil. Kelima, artikel Jonni Marwa dkk membincangkan Suku Mairasi dalam mengembangkan pendekatan keadilan dan keamanan dalam pembagian manfaat sumber daya hutan produksi berbasis masyarakat hukum adat. Terakhir, artikel keenam, Dedi I. Inan ingin menguraikan best practice aktivitas pengananan bencana. Menurutnya, pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi akan sangat efektif dalam menangani bencana alam.